Wednesday 4 February 2026 - 01:17
Dampak Regional Perang Amerika Serikat terhadap Iran: Dari Penutupan Selat Hormuz hingga Yaman sebagai Kartu As di Tangan Poros Perlawanan

Hawzah/ Seorang penulis Lebanon menegaskan bahwa jika perang antara Amerika Serikat dan Iran pecah, api konflik akan meluas dengan cepat. Kawasan Teluk akan berada dalam ancaman, jalur pelayaran internasional terancam, Selat Hormuz berpotensi ditutup, dan krisis minyak global dapat terjadi. Irak dan Suriah akan berubah menjadi medan pertempuran terbuka, sementara Yaman menjadi kartu tekanan tambahan di tangan poros perlawanan.

Berita Hawzah – Di tengah upaya Amerika Serikat dan rezim Zionis meningkatkan ketegangan dan mendorong kawasan menuju perang—serta berbagai skenario yang mereka susun untuk menghadapi bangsa-bangsa dan memecah negara-negara—kemungkinan terjadinya perang AS–Iran kembali mencuat dalam wacana politik dan media, baik sebagai ancaman maupun opsi yang dipertimbangkan. Pemimpin Revolusi Islam dalam pernyataan terbarunya juga menegaskan bahwa jika AS menyerang Iran, perang tersebut akan berubah menjadi konflik regional.

Dalam konteks ini, Munir Shahada, penulis, pensiunan brigadir jenderal Angkatan Darat Lebanon, mantan koordinator pemerintah Lebanon untuk Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL), dan mantan ketua Pengadilan Militer Lebanon, menulis sebuah analisis mengenai dampak perang tersebut.

Dampak Regional Perang Amerika Serikat terhadap Iran: Dari Penutupan Selat Hormuz hingga Yaman sebagai Kartu As di Tangan Poros Perlawanan

Perang AS–Iran: Bukan Konflik Terbatas, Melainkan Guncangan Regional

Jika perang langsung antara Amerika Serikat dan Iran terjadi, konflik itu tidak akan menjadi bentrokan dua pihak yang terbatas, melainkan sebuah “gempa regional” dengan konsekuensi luas. Timur Tengah bukan kawasan yang mengenal perang-perang terpisah; setiap konfrontasi besar di wilayah ini hampir selalu berubah menjadi rangkaian kebakaran yang saling terhubung, di mana kekacauan dimanfaatkan untuk mengubah keseimbangan kekuatan dan memaksakan realitas baru.

Amerika Serikat memasuki setiap kemungkinan perang dengan asumsi superioritas mutlak. Basis-basis militernya mengelilingi Iran, armada lautnya siaga, dan sanksi ekonomi digunakan layaknya senjata pemusnah massal yang berjalan paralel dengan operasi militer. Dalam kalkulasi Washington, stabilitas negara-negara seperti Lebanon tidak dianggap penting—begitu pula potensi keruntuhan sosial dan ekonomi mereka. Kawasan diperlakukan sebagai arena operasi, bukan sebagai mosaik negara dan bangsa.

Dalam skenario ini, Israel bukan sekadar sekutu yang mengikuti langkah AS, tetapi aktor utama yang mendorong konfrontasi. Retorika keamanan Israel bertumpu pada upaya menyeret AS ke dalam perang dengan Iran, yang dianggap sebagai peluang terbaik untuk mengubah wajah kawasan melalui kekuatan militer. Tel Aviv memahami bahwa perang besar akan mengguncang tatanan internasional, menghapus batasan politik dan moral, dan membuka ruang manuver luas atas nama “pertahanan diri”. Namun tujuan sebenarnya adalah menciptakan realitas strategis dan demografis yang sulit dibalikkan di masa depan.

Kawasan: Kekacauan Terencana dan Api dari Banyak Front

Secara regional, api konflik akan menyebar cepat. Kawasan Teluk berada dalam ancaman, jalur pelayaran internasional terancam, Selat Hormuz kemungkinan ditutup, dan krisis minyak global dapat terjadi. Irak dan Suriah akan menjadi medan pertempuran terbuka, sementara Yaman menjadi kartu tekanan tambahan yang signifikan.

Perang semacam ini tidak memiliki pemenang sejati; hanya perusahaan senjata dan energi serta sebagian politisi yang mencari pelarian dari krisis domestik yang akan meraup keuntungan.

Retorika AS tentang stabilitas dan perlindungan sekutu tampak tidak lebih dari kedok bagi arogansi kekuasaan dan pengelolaan kekacauan. Israel, pada gilirannya, tidak mengejar perdamaian atau deterensi seimbang, tetapi dominasi permanen—meski harus mengorbankan sisa stabilitas kawasan dan mendorong Timur Tengah menuju ambang keruntuhan total.

Jika perang AS–Iran terjadi, konflik itu tidak akan terbatas pada dua pihak. Lebanon akan berada di pusat badai, bukan karena pilihannya, tetapi sebagai korban.

Eskalasi konfrontasi bukan hasil keputusan sepihak, melainkan konsekuensi langsung dari arogansi Amerika, provokasi Israel, dan kekacauan yang sengaja dimanfaatkan untuk menggambar ulang peta kawasan dengan kekuatan militer. Dalam skenario ini, negara-negara lemah kembali harus menanggung biayanya.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha